Majunya sebuah peradaban diawali dengan tumbuhnya budaya literasi yang kuat di dalamnya. Penghormatan terhadap pengetahuan dan karya tulis yang mengabadikannya adalah batu-batu pondasi yang menopang peradaban itu. Semakin kuat penghormatan, semakin tinggi menjulang bangunannya. Pun sebaliknya. Untuk memundurkan sebuah peradaban, hinakanlah karya-karya tulis di dalamnya. Sejarah mencatat, misalnya di tahun 1258, Sungai Tigris pernah menghitam karena ribuan buku dibakar dan dihanyutkan. Dinasti Abbasiyah sebagai peradaban yang paling maju di dunia kala itu, turut hanyut setelahnya.

Penghinaan terhadap karya-karya pengetahuan, dalam bentuknya yang modern, mungkin tidak akan se-ekstrem pembakaran seperti di Baghdad itu. Dia kini barangkali tampil dalam senyap, menjelma dalam kelaziman, dan tidak tampak seperti sebuah kegiatan yang memerosotkan peradaban. Hal-hal “lumrah” seperti keengganan membaca buku (tapi sangat khusyuk mengakses media sosial), sepinya pengunjung perpustakaan, atau hal yang tampaknya sangat digital dan modern: “Bagi file PDF-nya dong, Bro,” sebagai reaksi atas keberhasilan seorang teman yang menerbitkan buku, tanpa mau tahu bagaimana temannya tadi telah berjibaku menghabiskan biaya, waktu, dan energi untuk riset dan penulisannya!

Dengan semangat memajukan “peradaban” Direktorat Jenderal Bea dan Cukai dan Kementerian Keuangan, pada akhir tahun 2015, puluhan pegawai Bea dan Cukai yang peduli terhadap kegiatan literasi menyatukan tekadnya untuk menumbuhkan budaya literasi institusi dalam wadah Forum Literasi Bea dan Cukai yang populer dengan nama: Customs Literacy Forum (CLiF).

CLiF lahir bersama harapan akan tersemainya benih-benih pegiat literasi yang bermunculan di dalam tubuh Bea Cukai. Pegiat literasi yang dari tangannya akan tertuang nawala-nawala ilmu. Pegiat literasi bukanlah pesuruh kata, justru mereka adalah arsitek intelektual yang mampu menentukan maju-mundurnya sebuah institusi.

Salah satu ikhtiar untuk menyemai benih-benih tersebut adalah penyelenggaraan CLiF Writing Camp pada tahun 2020 ini. Dengan menyasar bonus demografi Bea Cukai, kegiatan virtual ini mampu menjaring setidaknya seratus punggawa literasi muda dengan beragam segmen minat literasinya, dari sastra, esai populer, hingga riset ilmiah. Di CLiF, kesemua segmen itu memang disediakan salurannya.

Salah satu indikator keberhasilan kegiatan kemah menulis ini adalah peserta mampu menerbitkan sebuah buku. Sebuah tantangan pembelajaran yang tidak biasa tentunya. Karena, menghasilkan sebuah buku bukanlah pekerjaan yang mudah. Dia membutuhkan energi dan sikap tertentu untuk menjadikannya berhasil. Menulis buku adalah sebuah tangga naik yang membedakan seorang penulis dengan seorang yang hanya sekadar “berminat menulis”. Saya tidak yakin jika Adam Smith tidak pernah “memaksa dirinya” untuk menulis buku—atau dia hanya menuliskannya di Status Whatssap atau IG Story, andai ada saat itu—buah pemikirannya niscaya tidak akan terus dijadikan referensi hingga menembus abad saat ini. Saya memang menggarisbawahi kata energi dan sikap sebagai syarat keberhasilan menulis buku, karena memang di dalamnya ada proses yang hanya bisa dilalui oleh mereka yang memiliki keduanya.

Memang menulis buku bersama-sama dalam bentuk bunga rampai tidak lah serumit menulis buku seorang diri. Tapi menulis bunga rampai (demikian) jauh lebih baik daripada tidak pernah menghasilkan buku sama sekali. Target minimalnya adalah peserta mampu mencapai standar yang sebelumnya belum pernah mereka bayangkan. Dengan pernah menghasilkan bunga rampai, diharapkan peserta memiliki mentalitas yang dibutuhkan untuk mampu menghasilkan buku perorangan ke depannya. Toh menulis bunga rampai pun mensyaratkan energi dan sikap yang tidak jauh berbeda. Sedikit bukti, tidak sampai tiga puluh peserta yang sanggup berkontribusi ke dalam bunga rampai ini.

Oleh karenanya, Nawala Bintu—begitu bunga rampai ini dinamai—adalah sebuah tahapan penting dalam dunia literasi Bea Cukai. Dia menjadi prasasti bagi lahirnya para arsitek intelektual Bea Cukai masa depan. Sesuai namanya: nawala yang berarti lembaran karya tulis dari para punggawa berseragam bintu alias biru. Nawala Bintu kiranya mampu menjadi salah satu batu pondasi kebesaran peradaban Bea Cukai di keesokan hari.

Jakarta, Hari Bea Cukai 2020

Tulisan ini merupakan Pengantar dalam buku Nawala Bintu dari saya selaku Penanggung jawab Kegiatan CLiF Writing Camp 2020.

Yang berminat membaca bukunya, boleh mampir ke sini: http://www.leutikaprio.com/produk/110212/dunia_tulis_menulis/20121889/nawala_bintu/201010346/customs_literacy_forum